Sebagai acuan dalam menerapkan langkah-langkah penanganan syok anafilaktik (reaksi hipersensitivitas berlebihan terhadap masuknya protein/zat asing ke dalam tubuh) secara tepat dan cepat.
Hentikan segera paparan terhadap obat/antigen penyebab sebelum tindakan lain dimulai (disarikan dari langkah sumber).
Setiap tindakan penanganan syok anafilaktik dicatat di rekam medis pasien (dinyatakan eksplisit di sumber, langkah 12).
Pasien yang tidak membaik setelah penanganan awal dirujuk: pasien penjamin SHE → rujuk ke RSU Surya Husadha Nusa Dua. Pasien lain → RS Kasih Ibu Kedonganan (terdekat) sebagai pilihan pertama, alternatif RSU Surya Husadha Nusa Dua / Siloam / BIMC Kuta-Nusa Dua / RS Bali Jimbaran sesuai ketersediaan dan kondisi pasien, dengan pengawasan tenaga medis (dinyatakan eksplisit di sumber, langkah 11 — tujuan rujukan dipetakan sesuai kebijakan rujukan klinik terkini).
Pengecekan stok dan tanggal kadaluarsa obat-obat emergency (termasuk Epinephrin/adrenalin) adalah tanggung jawab rutin perawat/dokter jaga — klinik tidak memiliki apoteker tetap.
SOP ini scoped untuk pasien dewasa. Pasien anak dengan kondisi yang memerlukan tindakan ini dirujuk ke [●] fasilitas dengan kapasitas pediatrik.
Baringkan penderita dengan posisi tungkai lebih tinggi dari kepala (posisi Trendelenburg).
Berikan oksigen 3–5 L/menit.
Pasang infus dengan cairan plasma expander (Dextran). Jika cairan tersebut tidak tersedia, Ringer Laktat (RL) atau NaCl fisiologis dapat diberikan sebagai cairan pengganti sampai tekanan darah kembali optimal dan stabil.
Berikan Adrenalin 0,3–0,5 ml dari larutan 1:1000 secara IM (intramuskular) di paha anterolateral (vastus lateralis) — bukan bokong/deltoid, dapat diulangi tiap 5–10 menit.
Jika tidak ada respons, berikan Adrenalin 0,1–0,2 ml dilarutkan dalam 10 ml larutan NaCl fisiologis secara IV (intravena) perlahan-lahan.
Berikan Aminofilin 250 mg perlahan-lahan selama 10 menit secara IV apabila bronkospasme belum hilang dengan pemberian adrenalin, dilanjutkan 250 mg lagi melalui drip infus bila dianggap perlu.
Berikan Antihistamin: Difenhidramin HCl 5–20 mg secara IV.
Berikan Kortikosteroid: Deksametason 5–10 mg secara IV.
Berikan Hidrokortison 100–250 mg secara IV.
Bila terjadi henti jantung: kompresi dada 30x (kedalaman ~5 cm, laju 100–120x/menit) : ventilasi 2x dengan BVM, ulangi siklus tanpa defibrilasi/AED (klinik tidak memiliki AED) — lihat SPO Tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP), No. Dokumen 07/SPO-PU/2025 untuk detail lengkap.
Jika syok sudah teratasi, awasi/observasi pasien selama kurang lebih 4 jam, dengan monitoring tanda vital setiap 15 menit pada jam pertama, lalu setiap 30 menit setelahnya.
Rujuk pasien yang tidak membaik: pasien penjamin SHE → RSU Surya Husadha Nusa Dua. Pasien lain → RS Kasih Ibu Kedonganan (terdekat) sebagai pilihan pertama, alternatif RSU Surya Husadha Nusa Dua / Siloam / BIMC Kuta-Nusa Dua / RS Bali Jimbaran sesuai ketersediaan dan kondisi pasien, dengan pengawasan tenaga medis.
Catat setiap tindakan di rekam medis pasien.
Setelah Prosedur
Catat seluruh tindakan penanganan (obat, dosis, rute, waktu pemberian, respons pasien) di rekam medis pasien.
Lengkapi dokumen terkait sesuai kebutuhan: formulir pendaftaran, informed consent, surat rujukan (jika dirujuk), resep.
Buang alat suntik/jarum bekas ke safety box sesuai prinsip kewaspadaan standar (bukan dari sumber — kewaspadaan standar tindakan injeksi).
Posisikan pasien Trendelenburg, beri oksigen 3–5 L/menit.
Pasang infus (plasma expander/RL/NaCl).
Suntik Adrenalin 0,3–0,5 ml (1:1000) IM di paha anterolateral (vastus lateralis), ulang tiap 5–10 menit bila perlu.
Bila tidak respons: Adrenalin 0,1–0,2 ml + 10 ml NaCl IV perlahan.
Tambahkan Aminofilin/antihistamin/kortikosteroid sesuai indikasi.
Henti jantung → kompresi dada 30x : ventilasi 2x BVM (tanpa AED — tidak tersedia di klinik), rujuk SOP RJP untuk detail.
Observasi ~4 jam bila teratasi (TTV tiap 15 menit jam pertama, lalu tiap 30 menit); rujuk bila tidak membaik.
Catat di rekam medis.
Jangan lupa:
Adrenalin IM lini pertama, di paha anterolateral (vastus lateralis) — jangan tunda demi tindakan lain.
Observasi minimal 4 jam pasca-syok teratasi (risiko reaksi bifasik); TTV tiap 15 menit (jam 1), lalu tiap 30 menit.
Rujuk dengan pengawasan tenaga medis — SHE ke RSU Surya Husadha Nusa Dua; lainnya ke RS Kasih Ibu Kedonganan (pilihan pertama) atau alternatif sesuai ketersediaan.
flowchart TD
A[Mulai - kecurigaan syok anafilaktik] --> B[Hentikan obat/antigen penyebab]
B --> C[Posisi Trendelenburg + Oksigen 3-5 L/menit]
C --> D[Pasang infus]
D --> E[Adrenalin IM 0,3-0,5 ml]
E --> F{Respons membaik?}
F -->|Ya| G[Lanjutkan terapi suportif]
F -->|Tidak, ulang 5-10 menit atau tetap tidak respons| H[Adrenalin IV perlahan + Aminofilin/Antihistamin/Kortikosteroid sesuai indikasi]
H --> I{Henti jantung?}
I -->|Ya| J[Kompresi 30:2 BVM tanpa AED - rujuk SPO RJP 07/SPO-PU/2025]
I -->|Tidak| K{Syok teratasi?}
G --> K
K -->|Ya| L[Observasi kurang lebih 4 jam - TTV tiap 15 menit lalu tiap 30 menit]
K -->|Tidak membaik| M[Rujuk: SHE ke RSU Surya Husadha Nusa Dua / lainnya ke RS Kasih Ibu Kedonganan atau alternatif]
L --> N[Catat di rekam medis]
J --> N
M --> N
Titik keputusan utama: respons terhadap adrenalin awal, terjadi henti jantung atau tidak, dan syok teratasi atau perlu rujukan.
¶ ⚠️ Pitfalls & Solusi — DRAFT, perlu review klinis
Bagian ini disintesis dari praktik klinis standar (WHO/Kemenkes), BUKAN dari
pengalaman operasional Thrivanta — karena dokumen sumber tidak mencatat kegagalan
aktual di lapangan. PJ Klinis wajib mereview/mengoreksi sebelum dipublikasikan
final ke wiki staf.
Pitfall
Mengapa
Solusi
Penundaan pemberian adrenalin IM karena menunggu diagnosis "pasti" atau menunggu dokter
Adrenalin adalah terapi lini pertama yang time-critical; penundaan meningkatkan risiko kematian
Berikan adrenalin IM segera begitu kriteria anafilaksis terpenuhi, jangan menunggu konfirmasi tambahan
Salah rute — adrenalin diberikan IV langsung dosis IM tanpa pengenceran
Adrenalin IV pekat berisiko aritmia/krisis hipertensi berat
Ikuti rute dan pengenceran sesuai sumber: IM dahulu, IV hanya bila tidak respons dan sudah diencerkan dalam NaCl
Injeksi IM di bokong (jaringan lemak tebal, absorpsi lambat)
Lokasi IM yang tidak tepat memperlambat efek adrenalin
Injeksi IM di paha anterolateral (vastus lateralis) sesuai praktik standar
Pasien dipulangkan segera setelah gejala membaik tanpa observasi
Reaksi anafilaksis bifasik dapat muncul kembali dalam beberapa jam
Tetap observasi kurang lebih 4 jam sesuai SPO sebelum memulangkan pasien
Tidak ada alur eksplisit untuk kondisi jalan napas (airway) tersumbat akibat edema laring
Sumber tidak mencantumkan manajemen airway definitif selain oksigen suplementasi
Siapkan eskalasi ke rujukan/tenaga terlatih untuk manajemen airway lanjutan bila terjadi stridor/edema laring progresif
Sama seperti di atas — kontak/eskalasi spesifik Thrivanta (nama, nomor telepon) TIDAK
BOLEH dikarang. Tulis "[●] — eskalasi ke PJ Klinis/dokter jaga, isi nama & kontak"
sebagai placeholder, bukan nama fiktif.
Situasi
Tindakan
Tidak ada respons setelah 2 kali dosis Adrenalin IM
Lanjutkan ke Adrenalin IV perlahan sesuai dosis SPO, pastikan akses infus paten · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya
Pasien mengalami henti jantung selama penanganan
Mulai kompresi 30:2 BVM (tanpa AED) segera sesuai SPO RJP (07/SPO-PU/2025), aktifkan bantuan emergensi · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya, siapkan jalur rujukan sesuai kebijakan (SHE → RSU Surya Husadha Nusa Dua; lainnya → RS Kasih Ibu Kedonganan/alternatif)
Stok Adrenalin/epinephrin 1 mg/1 ml habis saat kasus terjadi
Segera cari sumber alternatif stok di unit lain sambil melanjutkan suportif (oksigen, posisi, infus) · eskalasi: Manajer Klinik / Asisten Manajer Klinik
Sarana rujukan (ambulans/RS penerima) tidak dapat dihubungi
Lanjutkan stabilisasi maksimal di klinik, coba RS alternatif sesuai daftar kebijakan (Kasih Ibu Kedonganan / Surya Husadha Nusa Dua / Siloam / BIMC Kuta-Nusa Dua / RS Bali Jimbaran) · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya
Reaksi berulang (bifasik) muncul setelah observasi 4 jam selesai
Perlakukan sebagai episode anafilaksis baru — ulangi algoritma penanganan dari awal · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya
Dikonversi dari dokumen sumber "DAFTAR SPO Thrivanta Jimbaran" No. 03/SPO-PU/2025, tanggal terbit asal 28 Juli 2025.
Sumber mencantumkan "No. Revisi" tanpa nilai yang terbaca jelas pada teks OCR (hanya "No. Revisi Jumlah Halaman" lalu "1/3", kemungkinan "1/3" adalah nomor halaman, bukan nomor revisi) — tidak diketahui apakah ini revisi ke-berapa. Perlu klarifikasi dari dokumen asli.
Halaman penutup dokumen sumber mencantumkan lokasi "Kedonganan, 28 Juli 2025" untuk tanda tangan pengesahan, sedangkan header SPO menyebut "Klinik Pratama Thrivanta Medical Jimbaran" dan "POLI UMUM RUANG TINDAKAN" — ada inkonsistensi penamaan lokasi (Kedonganan vs Jimbaran) di dalam satu dokumen sumber; tidak diubah/diselaraskan di sini, hanya dicatat.
Sumber tidak mencantumkan dosis anak/pediatrik untuk Adrenalin maupun obat-obat lain — hanya dosis dewasa. Tidak ditambahkan di sini karena tidak ada di sumber (lihat analisis praktikalitas terpisah).
Sumber tidak mencantumkan kontraindikasi maupun kriteria observasi lanjutan selain durasi "kurang lebih 4 jam" — ditulis apa adanya, tidak ditambahkan interpretasi. Interval monitoring tanda vital (tiap 15 menit jam pertama, lalu tiap 30 menit) ditambahkan pada revisi 1.1 berdasarkan praktik standar observasi pasca-anafilaksis, bukan dari sumber asli.
Klinik hanya memiliki lab POCT (glukosa, kolesterol, asam urat) dan EKG — tidak ada radiologi dan tidak ada apoteker tetap di lokasi.