Versi: 1.1 · Update: 2026-07-01 · Owner: Dokter & Perawat, Poli Umum/Ruang Tindakan
Referensi Dokumen Asal: 07/SPO-PU/2025 · Tanggal terbit asal: 28 Juli 2025
Memberikan bantuan hidup dasar kepada seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung dalam rangka mengembalikan fungsi sirkulasi dan pernapasan — untuk mencegah kematian biologis, mengembalikan fungsi sirkulasi dan pernapasan yang mendukung kehidupan, serta memberikan kelangsungan harapan hidup pada penderita dalam kondisi gawat darurat.
Dokter dan Perawat di Ruang Tindakan, Klinik Pratama Thrivanta Medical Jimbaran.
- Pastikan keamanan penolong dan korban sebelum memulai tindakan bantuan hidup dasar — jangan sampai membahayakan diri sendiri atau orang lain (dinyatakan eksplisit di sumber, langkah 1).
- Aktifkan respons emergensi (panggil dokter jaga + staf terdekat) sesegera mungkin setelah kecurigaan henti jantung, sebelum memulai siklus kompresi (dinyatakan eksplisit di sumber, langkah 3; metode pemanggilan disesuaikan — lihat langkah prosedur).
- Setiap tindakan RJP terkait dengan pencatatan di rekam medis dan informed consent sesuai dokumen terkait (disarikan dari daftar "Dokumen terkait" sumber).
- Klinik tidak memiliki AED. Resusitasi dilakukan dengan kompresi dada + ventilasi BVM sesuai algoritma BLS standar (tanpa defibrilasi). Begitu ada kecurigaan henti jantung, aktifkan rujukan emergency paralel dengan resusitasi — jangan tunggu ROSC dulu baru merujuk.
- SOP ini scoped untuk pasien dewasa. Pasien anak dengan kondisi yang memerlukan tindakan ini dirujuk ke [●] fasilitas dengan kapasitas pediatrik.
- Panduan BCLS dan CPR American Heart Association (AHA 2020).
¶ Standar Acuan
- Kemenkes/LAFKPK: Belum dipetakan — lihat Akreditasi/Akreditasi_Klinik_2023_Reference.md untuk EP terkait
- WHO: [Kosongkan — tidak ada guideline WHO spesifik-RJP yang lebih established untuk konteks ini dibanding rujukan AHA yang sudah dicantumkan sumber]
Persiapan
- BVM (bag-valve-mask)
- Tabung Oksigen
- Troli Emergency
(Sumber tidak mencantumkan daftar "Alat dan Bahan" terpisah untuk prosedur ini — lihat Catatan. Daftar di atas diselaraskan pada revisi 1.1 dengan alat yang benar-benar tersedia di klinik. Klinik tidak memiliki AED — lihat Kebijakan.)
Langkah-Langkah
- Periksa respons atau kesadaran korban dengan mencoba membangunkannya — tepuk pundak korban, goyangkan tubuhnya, atau panggil pasien dengan suara keras. Nilai tingkat kesadaran dengan skala AVPU: Alert, Verbal, Pain, Unresponsive.
- Pastikan Anda dan korban berada dalam posisi yang aman. Jangan sampai membahayakan diri sendiri atau orang lain saat hendak menolong menggunakan bantuan hidup dasar.
- Aktifkan respons emergensi: berteriak memanggil dokter jaga + staf terdekat, dan/atau [●] tekan alarm/gunakan radio internal — metode pasti mengikuti sarana yang tersedia di unit.
- Periksa napas dan denyut nadi secara bersamaan selama 5–10 detik.
- Bila tidak ada denyut nadi, segera mulai siklus Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan urutan CAB (Circulation, Airway, Breathing).
- Lakukan RJP dengan memberikan 30 kompresi dan 2 napas buatan menggunakan BVM (1 siklus), dengan kriteria kompresi:
- Posisi tangan dan tubuh harus tepat.
- Kedalaman kompresi 5–6 cm.
- Kecepatan 100–120 kali per menit.
- Recoil sempurna dinding dada setelah setiap kompresi.
- Interupsi kompresi seminimal mungkin.
- Cek denyut nadi kembali setiap 5 siklus atau 2 menit.
- Ganti kompresor setiap 2 menit atau bila penolong kelelahan.
- Lanjutkan siklus kompresi 30:2 tanpa AED (klinik tidak memiliki AED — lihat Kebijakan) hingga tercapai salah satu kriteria penghentian berikut.
- Hentikan RJP bila salah satu kondisi berikut terpenuhi:
- Telah ada tanda kehidupan (Return of Spontaneous Circulation/ROSC).
- RJP telah dilakukan dan tidak ada tanda kembalinya sirkulasi spontan.
- Terdapat lebam mayat dan tanda kematian sekunder lainnya.
- Penolong kelelahan.
- Bila pasien menunjukkan Return of Spontaneous Circulation (ROSC), posisikan pasien dalam posisi pemulihan (recovery position).
Setelah Prosedur
- Catat tindakan RJP di rekam medis pasien.
- Lengkapi informed consent sesuai kebutuhan.
Ringkasan scan-only. Harus bisa dieksekusi berdiri sendiri untuk kasus standar.
Siapkan:
Lakukan:
- Cek respons korban (panggil & goyang bahu) + nilai AVPU.
- Pastikan lokasi aman; aktifkan bantuan darurat — panggil dokter jaga + staf terdekat ([●] alarm/radio internal sesuai sarana yang tersedia).
- Cek napas + nadi bersamaan 5–10 detik.
- Tidak ada nadi → mulai RJP: 30 kompresi : 2 napas buatan BVM, kedalaman 5–6 cm, kecepatan 100–120/menit.
- Cek nadi tiap 5 siklus/2 menit; ganti kompresor tiap 2 menit.
- Lanjutkan siklus tanpa AED hingga ROSC, tanda kematian, atau penolong kelelahan.
- ROSC → posisikan recovery position.
Jangan lupa:
- Keselamatan penolong lebih dulu — jangan mulai jika lokasi tidak aman.
- Minimalkan interupsi kompresi.
- Ganti kompresor tiap 2 menit untuk menjaga kualitas kompresi.
- Klinik tidak memiliki AED — jangan tunda kompresi untuk mencari AED. Aktifkan rujukan emergency paralel dengan resusitasi.
flowchart TD
A[Mulai - temukan korban tidak sadar] --> C[Cek respons korban + nilai AVPU]
C --> B{Lokasi aman?}
B -->|Tidak| Z[Amankan lokasi dahulu]
B -->|Ya| D[Aktifkan bantuan darurat: panggil dokter jaga + staf terdekat]
D --> E[Cek napas dan nadi bersamaan 5-10 detik]
E --> F{Ada nadi?}
F -->|Ya| G[Bukan indikasi RJP - lanjut tata laksana sesuai kondisi]
F -->|Tidak| H[Mulai RJP: 30 kompresi : 2 napas BVM, siklus berulang]
H --> I[Cek nadi tiap 5 siklus / 2 menit, ganti kompresor tiap 2 menit]
I --> O{ROSC atau tanda kematian atau penolong kelelahan?}
O -->|Belum, lanjutkan siklus tanpa AED - tidak tersedia| I
O -->|ROSC| P[Posisikan recovery position]
O -->|Tanda kematian/penolong kelelahan| Q[Hentikan RJP]
Titik keputusan utama: keamanan lokasi, ada/tidaknya nadi, dan kriteria penghentian RJP. Klinik tidak memiliki AED — tidak ada cabang keputusan shockable/non-shockable.
Bagian ini disintesis dari praktik klinis standar (WHO/Kemenkes), BUKAN dari
pengalaman operasional Thrivanta — karena dokumen sumber tidak mencatat kegagalan
aktual di lapangan. PJ Klinis wajib mereview/mengoreksi sebelum dipublikasikan
final ke wiki staf.
| Pitfall |
Mengapa |
Solusi |
| Kompresi terlalu dangkal atau terlalu lambat/cepat |
Kompresi di luar rentang 5–6 cm dan 100–120x/menit menurunkan perfusi koroner dan serebral efektif |
Gunakan metronom/hitungan verbal, evaluasi kedalaman & kecepatan tiap pergantian kompresor |
| Interupsi kompresi terlalu lama saat cek nadi/ganti kompresor |
Setiap jeda kompresi menurunkan tekanan perfusi koroner secara tajam dan butuh beberapa kompresi untuk pulih |
Batasi jeda cek nadi maksimal 10 detik; siapkan kompresor pengganti sebelum 2 menit berakhir agar transisi cepat |
| Dinding dada tidak recoil penuh di antara kompresi (penolong bersandar di dada) |
Recoil tidak sempurna menghambat pengisian jantung kembali, menurunkan curah jantung berikutnya |
Latih posisi tangan agar terangkat penuh dari dinding dada di setiap siklus recoil |
| Penolong tunggal kelelahan tapi tetap memaksakan diri tanpa rotasi |
Kualitas kompresi menurun drastis setelah ±2 menit meski penolong merasa masih sanggup |
Tegakkan rotasi kompresor tiap 2 menit sebagai aturan baku, bukan hanya saat penolong merasa lelah |
| Menunda aktivasi rujukan emergency sampai menunggu ROSC tercapai |
Klinik tidak memiliki AED/kapasitas definitif — keterlambatan rujukan menurunkan peluang penyelamatan |
Aktifkan jalur rujukan emergency paralel begitu ada kecurigaan henti jantung, jangan tunggu hasil resusitasi dulu |
Sama seperti di atas — kontak/eskalasi spesifik Thrivanta (nama, nomor telepon) TIDAK
BOLEH dikarang. Tulis "[●] — eskalasi ke PJ Klinis/dokter jaga, isi nama & kontak"
sebagai placeholder, bukan nama fiktif.
| Situasi |
Tindakan |
| BVM tidak tersedia atau rusak saat dibutuhkan |
Lanjutkan kompresi dada; berikan ventilasi mulut-ke-mulut dengan barrier device bila tersedia sebagai alternatif sementara, jangan hentikan kompresi untuk menunggu perbaikan alat · eskalasi: Manajer Klinik / Asisten Manajer Klinik |
| Hanya ada satu penolong terlatih dan sudah kelelahan |
Cari penolong tambahan (tenaga klinik lain) sesegera mungkin sebagai kompresor pengganti · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| RJP berlangsung berulang siklus tanpa ROSC |
Lanjutkan protokol RJP sesuai algoritma BLS (kompresi + BVM, tanpa AED) sambil mempersiapkan rujukan emergensi ke RS secara paralel · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya, dan layanan ambulans/RS rujukan |
| Muncul tanda-tanda kematian pasti (lebam mayat, kaku mayat) di tengah RJP |
Hentikan RJP sesuai kriteria SPO, dokumentasikan waktu dan temuan · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya, untuk penetapan kematian dan prosedur selanjutnya |
| ROSC tercapai tapi kondisi pasien tidak stabil (napas/nadi kembali hilang) |
Ulangi algoritma RJP dari awal, jangan asumsikan ROSC permanen · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya, siapkan rujukan segera |
- Dikonversi dari dokumen sumber "DAFTAR SPO Thrivanta Jimbaran" No. 07/SPO-PU/2025, tanggal terbit asal 28 Juli 2025.
- Sumber tidak mencantumkan daftar "Alat dan Bahan" eksplisit seperti pada SPO Syok Anafilaktik — hanya "Unit terkait" (Dokter, Perawat, Ruang tindakan) dan penyebutan AED di dalam langkah-langkah asli. Revisi 1.1: klinik tidak memiliki AED — seluruh referensi AED dihapus dari Persiapan, Langkah-Langkah, At-a-Glance, dan Flowchart, digantikan alat yang benar-benar tersedia (BVM, Tabung Oksigen, Troli Emergency).
- Sumber mencantumkan "No. Revisi Halaman" lalu nilai "1/3" — sama seperti SPO Syok Anafilaktik, tidak jelas apakah "1/3" adalah nomor revisi atau nomor halaman; kemungkinan besar nomor halaman (dokumen 3 halaman), tapi field revisi sendiri tidak terisi jelas di teks OCR. Perlu klarifikasi dari dokumen asli.
- Langkah 5 sumber asli (skala AVPU: Alert, Verbal, Pain, Unresponsible/Unresponsive) muncul setelah langkah "periksa napas dan nadi" — urutan ini tidak lazim dibanding algoritma BLS standar. Revisi 1.1: AVPU digabung ke langkah pengkajian respons di posisi paling awal (langkah 1), sebelum cek nadi/napas, sesuai algoritma BLS standar.
- Sumber tidak menyebutkan penanganan khusus untuk RJP pada anak/bayi (pediatrik) — hanya algoritma dewasa. SOP ini di-scope untuk pasien dewasa (lihat Kebijakan); rujukan pediatrik ditambahkan sebagai placeholder pada revisi 1.1.
- Sumber tidak mencantumkan kapan/bagaimana mengaktifkan "sistem emergensi" secara spesifik di internal klinik (siapa yang dihubungi, nomor berapa) — hanya instruksi generik "panggil bantuan". Revisi 1.1: langkah aktivasi dibuat eksplisit ("panggil dokter jaga + staf terdekat"), namun metode pasti (radio/interkom/alarm) masih placeholder [●] — PJ Klinis wajib mengisi.
| Versi |
Tanggal |
Perubahan |
| 1.0 |
2026-07-01 |
Konversi dari SPO 07/SPO-PU/2025 format form-akreditasi ke format wiki Thrivanta |
| 1.1 |
2026-07-01 |
Hapus seluruh referensi AED (tidak tersedia di klinik) dari Persiapan/langkah/At-a-Glance/Flowchart, ganti dengan BVM/Oksigen/Troli Emergency; pindahkan pengkajian respons+AVPU ke langkah paling awal; konkretkan langkah aktivasi bantuan darurat; tambahkan kebijakan rujukan paralel tanpa menunggu ROSC, scoping pasien dewasa, dan standarisasi placeholder eskalasi |