Versi: 1.1 · Update: 2026-07-01 · Owner: Dokter, Perawat — Ruang Pemeriksaan / Ruang Tindakan
Referensi Dokumen Asal: 04/SPO-PU/2025 · Tanggal terbit asal: 28 Juli 2025
Mengetahui adanya kelainan pada organ telinga, hidung, dan tenggorok melalui pemeriksaan yang benar, sebagai dasar penentuan terapi selanjutnya.
Dilakukan oleh dokter/perawat di Ruang Pemeriksaan atau Ruang Tindakan, Klinik Pratama Thrivanta Medical Jimbaran.
Persiapan
Langkah-Langkah
Pemeriksaan Telinga
Pemeriksaan Hidung
14. Minta pasien duduk di hadapan pemeriksa.
15. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
16. Siapkan alat: lampu kepala dan speculum hidung.
17. Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan.
18. Pemeriksa memasang lampu kepala.
19. Masukkan speculum hidung sesuai ukuran kavum nasi pasien.
20. Periksa cavum nasi kanan dengan tangan kiri, dan cavum nasi kiri dengan tangan kanan.
21. Nilai apakah ada kelainan pada cavum nasi, septum nasi, dan konka hidung.
22. Sampaikan hasil pemeriksaan kepada pasien.
23. Catat hasil pemeriksaan di rekam medis elektronik pasien.
Pemeriksaan Tenggorokan
24. Minta pasien duduk di hadapan pemeriksa.
25. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
26. Siapkan alat: lampu kepala dan tongue spatel.
27. Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan.
28. Pemeriksa memasang lampu kepala.
29. Minta pasien membuka mulut dan menjulurkan lidah.
30. Periksa kavum oral pasien, gigi, lidah, dan mukosa buccal (mukosa pipi bagian dalam).
31. Gunakan tongue spatel untuk mendorong lidah ke bawah, minta pasien melemaskan lidahnya.
32. Nilai faring dan tonsil, termasuk ukuran dan kripta pada tonsil.
33. Minta pasien mengucapkan "aa" dan perhatikan pergerakan uvula pasien.
34. Sampaikan hasil pemeriksaan kepada pasien.
35. Catat hasil pemeriksaan di rekam medis elektronik pasien.
Setelah Prosedur
Ringkasan scan-only. Harus bisa dieksekusi berdiri sendiri untuk kasus standar.
Siapkan:
Lakukan:
Jangan lupa:
[Prosedur pada dasarnya linear untuk tiga organ berurutan; satu titik keputusan pada temuan kelainan vs normal.]
Bagian ini disintesis dari praktik klinis standar (WHO/Kemenkes), BUKAN dari
pengalaman operasional Thrivanta — karena dokumen sumber tidak mencatat kegagalan
aktual di lapangan. PJ Klinis wajib mereview/mengoreksi sebelum dipublikasikan
final ke wiki staf.
| Pitfall | Mengapa | Solusi |
|---|---|---|
| Corong otoskop tidak diganti/didesinfeksi antar pasien | Risiko kontaminasi silang liang telinga | Gunakan corong sekali pakai atau desinfeksi sesuai protokol PPI antar pasien |
| Serumen menghalangi visualisasi gendang telinga | Diagnosis tertunda/salah interpretasi | Bila serumen menutup total, jadwalkan ekstraksi serumen sebelum menilai membran timpani, jangan memaksakan penilaian |
| Speculum hidung ukuran tidak sesuai menyebabkan trauma mukosa | Nilai kavum nasi terganggu, pasien tidak nyaman | Pilih ukuran speculum sesuai kavum nasi pasien, masukkan perlahan tanpa tekanan berlebih |
| Refleks muntah saat penekanan lidah untuk menilai faring/tonsil | Pasien tidak kooperatif, penilaian tonsil tidak optimal | Instruksikan pasien bernapas melalui mulut, tekan lidah secukupnya, hindari penekanan berulang berlebihan |
Sama seperti di atas — kontak/eskalasi spesifik Thrivanta (nama, nomor telepon) TIDAK
BOLEH dikarang. Eskalasi klinis: "PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak
langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya". Eskalasi operasional
non-klinis: Manajer Klinik / Asisten Manajer Klinik.
| Situasi | Tindakan |
|---|---|
| Ditemukan benda asing di liang telinga/hidung yang tidak dapat diekstraksi di poli | Hentikan upaya ekstraksi paksa; rujuk ke dokter spesialis THT (via jaringan rujukan RS — lihat Kebijakan) · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Perforasi membran timpani ditemukan saat pemeriksaan | Hindari irigasi/manipulasi lanjutan pada telinga tersebut, edukasi pasien; rujuk ke dokter spesialis THT · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Perdarahan hidung (epistaksis) terjadi saat/setelah pemasangan speculum | Hentikan pemeriksaan, lakukan penanganan epistaksis standar (posisi duduk, tekan ala nasi), evaluasi ulang · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Dicurigai keganasan/lesi mencurigakan pada rongga mulut, faring, atau tonsil | Dokumentasikan temuan detail, jangan sampaikan diagnosis pasti ke pasien di tempat; rujuk ke dokter spesialis THT untuk evaluasi lanjutan · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Kriteria rujuk (ringkasan): benda asing tak terekstraksi, perforasi membran timpani, atau kecurigaan keganasan/massa/lesi mencurigakan | Rujuk ke dokter spesialis THT. Pasien penjamin SHE → RSU Surya Husadha Nusa Dua. Pasien lain → RS Kasih Ibu Kedonganan (terdekat) sebagai pilihan pertama, alternatif RSU Surya Husadha Nusa Dua / Siloam / BIMC Kuta-Nusa Dua / RS Bali Jimbaran sesuai ketersediaan dan kondisi pasien |
| Versi | Tanggal | Perubahan |
|---|---|---|
| 1.0 | 2026-07-01 | Konversi dari SPO 04/SPO-PU/2025 format form-akreditasi ke format wiki Thrivanta |
| 1.1 | 2026-07-01 | Standarisasi jalur eskalasi klinis/operasional; tambah kriteria rujuk eksplisit (benda asing, perforasi timpani, curiga keganasan) dan jalur rujukan RS berbasis penjamin |