Versi: 1.1 · Update: 2026-07-01 · Owner: Dokter, Perawat — Ruang Tindakan, Klinik Pratama Thrivanta Medical Jimbaran
Referensi Dokumen Asal: 12/SPO-PU/2025 · Tanggal terbit asal: 28 Juli 2025
Sebagai acuan bagi petugas untuk melakukan insisi dan drainase abses. Insisi adalah luka yang dibuat pada pembedahan; drainase adalah cara yang dibuat untuk mengalirkan cairan atau abses.
Dilakukan oleh dokter dan perawat di Ruang Tindakan, Klinik Pratama Thrivanta Medical Jimbaran.
- Minta persetujuan tindakan (informed consent) dari dokter kepada pasien atau keluarga dekatnya sebelum tindakan (dinyatakan eksplisit di sumber).
- Pastikan identitas pasien dan tempat pembedahan sebelum memulai tindakan (dinyatakan eksplisit di sumber — prinsip identifikasi sebelum tindakan invasif).
- Terapkan prinsip asepsis: cuci tangan, APD (sarung tangan, pelindung wajah), dan tindakan asepsis area kerja sebelum dan sesudah insisi (dinyatakan eksplisit di sumber).
- Kriteria stop-and-refer wajib dievaluasi sebelum insisi dimulai — lihat Prosedur langkah 11a.
- Jaringan rujukan bila insisi tidak dapat/tidak boleh dilakukan di klinik: pasien penjamin SHE → rujuk ke RSU Surya Husadha Nusa Dua. Pasien lain → RS Kasih Ibu Kedonganan (terdekat) sebagai pilihan pertama, alternatif RSU Surya Husadha Nusa Dua / Siloam / BIMC Kuta-Nusa Dua / RS Bali Jimbaran sesuai ketersediaan dan kondisi pasien.
- SOP ini scoped untuk pasien dewasa. Pasien anak dengan kondisi yang memerlukan tindakan ini dirujuk ke [●] fasilitas dengan kapasitas pediatrik.
- Klinik hanya memiliki lab POCT (glukosa, kolesterol, asam urat) dan EKG — tidak ada radiologi maupun apoteker tetap di lokasi; evaluasi pencitraan/konsultasi farmasi lanjutan dilakukan melalui rujukan bila diperlukan.
- Buku Keterampilan Dasar Keperawatan Bedah
¶ Standar Acuan
- Kemenkes/LAFKPK: Belum dipetakan — lihat Akreditasi/Akreditasi_Klinik_2023_Reference.md untuk EP terkait
- WHO: WHO Surgical Safety Checklist relevan sebagai prinsip umum untuk tindakan invasif (verifikasi identitas pasien & lokasi tindakan) — penerapan spesifik pada insisi abses di Poli Umum belum dipetakan, perlu review PJ Klinis.
Persiapan
- Apron
- Sarung tangan steril
- Masker wajah dengan pelindung
- Betadin, kassa steril
- Lidokain 1% atau lidokain + epinefrin
- Spuit 1–10 cc
- Jarum 22–24 G
- Pisau scalpel nomor 11 atau 15 dengan gagangnya
- Klem bengkok
- Normal saline dengan bengkok steril
- Spuit besar tanpa jarum
- Gunting, plester
- Antibiotic cream
Langkah-Langkah
A. Persiapan
- Minta persetujuan tindakan dokter kepada pasien atau keluarga dekatnya.
- Pastikan identitas pasien dan tempat pembedahan.
- Cuci tangan dengan sabun antibakteri dan air.
- Pakai sarung tangan dan pelindung wajah.
- Letakkan semua perlengkapan pada tempat yang mudah dijangkau, di atas meja tindakan.
- Posisikan pasien sehingga daerah drainase terpapar penuh dan dapat dicapai secara mudah, dengan memperhatikan kenyamanan kondisi pasien.
- Pastikan cahaya yang memadai agar abses mudah dilihat.
- Bersihkan daerah abses dengan betadin, dengan gerakan melingkar mulai dari puncak abses.
- Tutupi daerah sekitar abses dengan duk lubang steril untuk mencegah kontaminasi alat.
- Lakukan anestesi di atas abses dengan memasukkan jarum di bawah dan sejajar dengan permukaan kulit.
- Suntikkan obat anestesi ke dalam jaringan intradermal, teruskan infiltrasi sampai mencapai seluruh puncak abses yang cukup besar untuk menganestesi daerah insisi.
11a. Kriteria stop-and-refer — wajib dievaluasi sebelum insisi dimulai. JANGAN lakukan insisi di klinik dan rujuk pasien (lihat jaringan rujukan di Kebijakan) apabila salah satu kondisi berikut ditemukan:
- Lokasi abses di wajah, leher, area perianal, atau dekat pembuluh darah besar; ATAU
- Ada tanda sistemik: demam, takikardia, atau pasien tampak toksik.
Jika tidak ada kondisi di atas, lanjutkan ke insisi.
B. Prosedur Insisi dan Drainase Abses
12. Pegang scalpel menggunakan jempol dan jari telunjuk untuk membuat jalan masuk ke abses.
13. Buat insisi secara langsung di atas pusat abses kulit.
14. Lakukan insisi sepanjang eksisi panjang dari kumpulan cairan.
15. Kendalikan scalpel secara berhati-hati selama insisi untuk mencegah tusukan melalui dinding belakang.
16. Perluas insisi untuk membuat lubang yang cukup lebar untuk drainase yang memadai dan mencegah pembentukan abses berulang.
17. Tekan isi abses.
18. Masukkan klem bengkok sampai terasa tahanan dari jaringan sehat, kemudian buka klem untuk menghancurkan bagian dalam rongga abses.
19. Teruskan penghancuran lokulasi dalam gerakan memutar sampai seluruh rongga abses sudah dieksplorasi.
C. Perawatan Lanjutan
20. Untuk abses sederhana, tidak perlu antibiotika.
21. Untuk selulitis yang luas di bawah abses, gunakan antibiotika dan boleh dipertimbangkan pemberian steroid.
22. Lakukan tindakan asepsis dengan larutan betadine sebelum menutup luka.
22a. Pasang wound packing: masukkan kasa/pack steril ke dalam rongga abses pasca-drainase untuk membantu drainase lanjutan dan mencegah penutupan prematur pada permukaan luka.
23. Tutup luka abses dengan kasa steril.
24. Keluarkan semua benda-benda (packing/drain) dari abses dalam beberapa hari.
25. Jadwalkan kontrol 3 hari sesudah prosedur untuk mengeluarkan bahan-bahan dari luka.
D. Edukasi Pasien
26. Minta pasien untuk kembali sebelum jadwal kontrol bila ada tanda-tanda perburukan: kemerahan, pembengkakan, atau gejala sistemik seperti demam.
Setelah Prosedur
- Catat tindakan di rekam medis.
- Pastikan formulir informed consent terisi dan tersimpan.
Ringkasan scan-only. Harus bisa dieksekusi berdiri sendiri untuk kasus standar.
Siapkan:
Lakukan:
- Informed consent + verifikasi identitas & lokasi tindakan.
- Cuci tangan, APD, siapkan alat, posisikan pasien, pastikan pencahayaan cukup.
- Antisepsis area abses (betadin, gerakan melingkar dari puncak), pasang duk lubang.
- Anestesi lokal: infiltrasi intradermal sampai area insisi mati rasa.
- Cek kriteria stop-and-refer (lokasi wajah/leher/perianal/dekat pembuluh besar ATAU tanda sistemik) — jika ada, JANGAN insisi, rujuk sesuai jaringan rujukan.
- Insisi tepat di puncak abses, sepanjang aksis kumpulan cairan; perluas untuk drainase adekuat.
- Hancurkan lokulasi dengan klem bengkok (gerakan memutar) sampai rongga tereksplorasi tuntas.
- Pasang wound packing pasca-drainase, tutup luka dengan kasa steril setelah asepsis ulang.
- Edukasi kontrol 3 hari + tanda bahaya untuk kembali lebih awal.
Jangan lupa:
- Antibiotik hanya untuk selulitis luas di sekitar abses, bukan rutin untuk abses sederhana.
- Kendalikan kedalaman scalpel — cegah tusukan menembus dinding belakang rongga abses.
- Kriteria stop-and-refer dicek SEBELUM insisi, bukan setelah — lokasi berisiko tinggi atau tanda sistemik berarti rujuk, tidak insisi di klinik.
- Jadwalkan kontrol 3 hari untuk evaluasi/pelepasan packing.
flowchart TD
A[Mulai] --> B[Informed consent + verifikasi identitas & lokasi]
B --> C[Cuci tangan, APD, siapkan alat & posisi pasien]
C --> D[Antisepsis area abses + pasang duk lubang]
D --> E[Anestesi lokal infiltrasi intradermal]
E --> S{Stop-and-refer: lokasi wajah/leher/perianal/dekat pembuluh besar ATAU tanda sistemik demam/takikardia/toksik?}
S -->|Ya| R[JANGAN insisi — rujuk sesuai jaringan rujukan SHE/non-SHE]
S -->|Tidak| F[Insisi di puncak abses sepanjang aksis kumpulan cairan]
F --> G[Perluas insisi, tekan isi abses, hancurkan lokulasi dgn klem]
G --> H{Selulitis luas di sekitar abses?}
H -->|Ya| I[Beri antibiotika, pertimbangkan steroid]
H -->|Tidak, abses sederhana| J[Tanpa antibiotika]
I --> K[Pasang wound packing + asepsis ulang + tutup luka dengan kasa steril]
J --> K
K --> L[Edukasi: kontrol 3 hari, tanda bahaya untuk kembali lebih awal]
L --> M[Selesai]
R --> M
Bagian ini disintesis dari praktik klinis standar (WHO/Kemenkes), BUKAN dari
pengalaman operasional Thrivanta — karena dokumen sumber tidak mencatat kegagalan
aktual di lapangan. PJ Klinis wajib mereview/mengoreksi sebelum dipublikasikan
final ke wiki staf.
| Pitfall |
Mengapa |
Solusi |
| Insisi terlalu kecil/tidak diperluas cukup |
Drainase tidak adekuat meningkatkan risiko abses berulang |
Perluas insisi sesuai ukuran rongga hingga drainase lancar, sesuai langkah sumber |
| Scalpel menusuk terlalu dalam hingga menembus dinding belakang rongga |
Berisiko cedera struktur di bawah abses (pembuluh darah, saraf, organ dalam tergantung lokasi) |
Kendalikan kedalaman insisi, gunakan teknik terkontrol (jempol-telunjuk menahan mata pisau), terutama pada abses di area wajah/leher/lipat paha dekat struktur vaskular |
| Abses di lokasi berisiko tinggi (wajah, leher, area perianal, dekat pembuluh besar) ditangani seperti abses sederhana |
Lokasi ini berisiko komplikasi lebih tinggi dan mungkin memerlukan rujukan bedah, bukan insisi rutin poli umum |
Kriteria stop-and-refer kini wajib dicek di Prosedur langkah 11a sebelum insisi dimulai; rujuk sesuai jaringan rujukan di Kebijakan bila kondisi terpenuhi |
| Tidak mengevaluasi tanda sistemik/sepsis sebelum tindakan lokal |
Abses dengan gejala sistemik (demam tinggi, takikardia) dapat menandakan infeksi sistemik yang perlu penanganan lebih dari insisi lokal |
Skrining tanda vital dan gejala sistemik kini bagian dari kriteria stop-and-refer wajib (langkah 11a) sebelum insisi; rujuk bila ada tanda sepsis |
| Dosis maksimal lidokain 1% tidak dicantumkan sumber |
Risiko toksisitas anestesi lokal terutama pada abses luas yang butuh infiltrasi banyak titik |
Hitung dosis maksimal aman berdasarkan berat badan sebelum infiltrasi luas |
Sama seperti di atas — kontak/eskalasi spesifik Thrivanta (nama, nomor telepon) TIDAK
BOLEH dikarang. Tulis "[●] — eskalasi ke PJ Klinis/dokter jaga, isi nama & kontak"
sebagai placeholder, bukan nama fiktif.
| Situasi |
Tindakan |
| Perdarahan tidak berhenti setelah insisi |
Tekan langsung dengan kasa steril, evaluasi sumber perdarahan, pertimbangkan penjahitan/rujukan bila tidak terkendali · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Abses berlokasi di area berisiko tinggi (wajah, leher, perianal, dekat pembuluh besar) |
Kriteria stop-and-refer (langkah 11a) — rujuk sesuai jaringan rujukan di Kebijakan sebelum insisi dilakukan · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Tanda sistemik (demam tinggi, takikardia, hipotensi) menyertai abses |
Curigai sepsis/infeksi sistemik, evaluasi kegawatdaruratan, pertimbangkan rujukan segera · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
| Pasien tidak kembali kontrol pada hari ke-3 sesuai jadwal |
Hubungi pasien untuk mengingatkan kontrol dan evaluasi luka; edukasi ulang risiko bila packing tidak dikeluarkan tepat waktu · eskalasi: PJ Pelayanan / dokter jaga shift berjalan — [●] jalur kontak langsung (nomor/radio internal) belum ada di sistem saya |
- Dikonversi dari dokumen sumber "DAFTAR SPO Thrivanta Jimbaran" No. 12/SPO-PU/2025, tanggal terbit asal 28 Juli 2025.
- Field "Unit terkait" pada sumber secara eksplisit mencantumkan Dokter, Perawat, dan Ruang Tindakan — digunakan langsung untuk field "Owner" dan "Ruang Lingkup" (berbeda dari SOP 09 dan 11 yang tidak memiliki field ini di sumber, sehingga owner-nya di-placeholder).
- [Revisi 1.1] Sumber tidak mencantumkan teknik pemasangan wound packing secara eksplisit — sebelumnya ini gap logika (langkah "keluarkan benda-benda dari abses" muncul tanpa langkah pemasangan). Revisi 1.1 menambahkan langkah 22a (pemasangan packing pasca-drainase) berdasarkan praktik klinis standar untuk menutup gap ini.
- Dosis maksimal lidokain 1%/lidokain+epinefrin tidak dicantumkan sumber — sama seperti SOP 11, ditandai sebagai pitfall bukan langkah wajib.
- [Revisi 1.1] Sumber tidak menyebutkan kriteria kapan harus merujuk (lokasi abses berisiko tinggi, ukuran, tanda sistemik) — sebelumnya hanya ditandai sebagai gap di Pitfalls. Revisi 1.1 menambahkan kriteria stop-and-refer eksplisit sebagai langkah wajib (11a) sebelum insisi dimulai, plus jaringan rujukan konkret di Kebijakan, berdasarkan proposal revisi yang disetujui — bukan pernyataan eksplisit dari dokumen sumber asli.
- Dokumen ditandatangani di "Kedonganan" seperti dua SOP lain dalam batch ini — perlu klarifikasi PJ Klinis mengingat cakupan proyek dibatasi pada cabang Jimbaran.
| Versi |
Tanggal |
Perubahan |
| 1.0 |
2026-07-01 |
Konversi dari SPO 12/SPO-PU/2025 format form-akreditasi ke format wiki Thrivanta |
| 1.1 |
2026-07-01 |
Tambah kriteria stop-and-refer wajib sebelum insisi (langkah 11a) + jaringan rujukan SHE/non-SHE konkret; tambah langkah pemasangan wound packing (22a) menutup gap logika packing; tambah klausul scoping dewasa & catatan keterbatasan lab/radiologi/apoteker; standardisasi placeholder eskalasi (PJ Pelayanan/dokter jaga) |